Menjelang malam, sepulang shalat Maghrib dari Masjid
Al-Hasanah, salah satu masjid di kampus Kedinasan Jakarta Timur, Saya
dan sahabat sekontrakan, Si Juki, berjalan melewati sudut-sudut lorong
Kebon Nanas Selatan. Ketika menyusuri gang Macan, Kami temui
pemuda-pemudi yang sedang berduaan. Bukan hal asing lagi jika kita
menjumpai sepasang pemuda-pemudi di gang ini.
Yup, berduaan di
teras kontrakan. Keduanya sedang serius mengobrolkan sesuatu yang
sepertinya sangat penting. Sesekali, dihiasi canda tawa yang terlihat
dari senyuman keduanya yang begitu merekah.
Ketika Kami berpapasan dengan sepasang merpati tersebut,
terdengar sapaan dari seorang pria dengan senyuman seolah menyimpan
rasa malu, “Assalamu’alaikum, Kak!”. Terlihat pula mimik wajah mesam-mesem dari cewek di sebelahnya.
Serentak Kami menjawab “Wa’alaikumsalamwaromatulloh”,
sembari melemparkan balasan senyuman ke mereka. Oh, ternyata dia adalah
adik kelas Kami. Salah satu budaya di kampus Kami adalah tegur-sapa
jika bersua dengan sesama mahasiswa yang se-almamater, baik di saat
berada di dalam kampus ataupun ketika berjumpa di luar kampus. Budaya
yang saat ini jarang dijumpai dan patut dilestarikan tidak hanya dengan
yang se-almamater.
Tanpa berpanjang kalam Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kontrakan Kami yang tidak jauh lagi.
Tiba-tiba Si Juki nyelethuk “Berani banget ya anak sekarang, Ron?”.
“Maksudmu apa, Ki?” Saya menimpali. Dari gurat wajah Si Juki menunjukkan keseriusan.
“Lihat kejadian tadi, ga? Mereka cuek banget saat lihat Kita lewat.”
“Bukannya tadi mereka memberi salam ke Kita?” balasku.
“Iya, ngerti. Tapi bukan itu yang ana maksud.” dengan logat Arab yang sok fasihnya.
“Terus?” Saya semakin penasaran.
Dengan nada yang tinggi Si Juki berucap “kamu lihat ga sih, tadi mereka cuma berdua cewek-cowok duduk di teras kontrakan. Apa mereka ga malu? Mereka mengira seolah-olah kita senang dengan hal seperti itu. Atau kita sudah tidak dihargai lagi?”
Dari nada yang diucapkannya sepertinya Juki sangat kesal
dengan peristiwa tadi. Maklum, Dia salah satu pentolan ADK di kampus
kami. Begitu pula pengalamannya saat di SMP dan SMA, telah membentuk
pola pikirnya sehingga Dia sangat alergi dengan ikhtilath (campur baur).
“Oh, itu. Santailah lah, bro. Mungkin saja mereka sedang mengerjakan tugas kuliah.” saya mencoba mendinginkan suasana dengan bahasa yang lagi nge-trend di kalangan muda saat ini.
“Kerja tugas kok mepet banget.” Juki membalas.
“Bisa jadi mereka berdua adalah saudara?” jawabku yang tengah berusaha husnuzhon.
“Saudara kok ga ada miripnya sama sekali, yang satu mantulin cahaya satunya lagi nyerap,” selang waktu kemudian Juki melanjutkan “Lho, Antum kok jadi belain mereka, sih. Jangan-jangan Antum sepakat, ya?”
“Astaghfirullah, Kamu jangan su’udzon dulu,
ya! Bukannya Allah memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka, karena
sebagian dari prasangka adalah keburukan. Lagipula mereka juga masih
saudara kita, kan?” Saya menegaskan.
“Afwan Akhi, ana paham. Cuma ana sangat dongkolbanget kenapa akhir-akhir ini peristiwa semacam ini sangat sering ana jumpai. Bahkan saudara yang saya anggap tsiqah saat ini pun terjerumus dengan hal yang serupa. Ana begitu miris” balas Juki.
“Saya salut sama Kamu, bro. Kamu sangat
perhatian dengan saudaramu. Saya juga sangat sedih kalau saudara-saudara
kita saat ini banyak yang terjerumus ka sarana mendekati zina ini.
Bagaimana tidak? Pintu peluang untuk melakukan keburukan semuanya
terbuka. Saat makan, teringat si Dia. Mau tidur, terbayang wajahnya. Pas
takbir, eh nongol lagi parasnya. Ketika sujud, dia lagi-dia
lagi. Saat sedang sendiri, selalu ingin bersua dengannya, padahal baru
se menit berpisah. Kalau belum halal, ini kan masuk zina hati.” jelasku.
“Naam Akhi. Saat sedang bersama selalu ingin
menatap wajahnya. Semua keindahan serasa ada padanya. Pokoknya tidak
pingin berpisah, apalagi lama-lama. Meskipun sebenarnya sudah tak tahan kebelet mau ke belakang, apa daya tidak di izinkan. Astaghfirullah,
itu juga kan zina mata. Semakin lama bersama, bisikan itu semakin kuat.
Berikutnya (maaf) kemaluanlah yang menolak atau mengiyakan.” Juki
menanggapi.
“Na’udzubillah, Semoga Allah memberi hidayah
dan menjaga saudara-saudara Kita tersebut agar tidak terjebak ke zina
sesungguhnya.” Saya membalas.
“Na’am Akhi, Amin Ya Allah. Semoga Allah menjaga kita untuk tetap menjadi ikhwan JOSH” celetus Si Juki.
“JOSH? Kayak nama minuman suplemen aja?” tanyaku penasaran.
“Iya, JOSH. Ga gaul banget sih Antum?” timpalnya.
“Hihihi, Sorry. Saya kan anak pingitan.” jawabku sembari terkaget karena jarang-jarang Si Juki ngomong bahasa prokem.
“Ampun dah, anak pingitan? Ga salah?” ucapnya sambil mencibir “JOSH itu Jomblo Sampe Halal“ dia melanjutkan.
“Amin, Ya Robb” jawab kami serentak dengan wajah girang.
“Hehehe, Bisa aja kamu, Ki” saya menambahkan.
Tidak terasa ternyata pembicaraan ini telah mengantarkan Kami di depan kontrakan. Kontrakan yang dihuni para ikhwan JOSH. Alhamdulillah,
lingkunganlah yang membuat Kami selalu di jaga oleh Allah. Semoga Allah
memberikan kekuatan kepada Kita untuk kembali kepada-Nya.
Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Selama Kita
memahami dampak negatifnya, menyesali tindakannya dan memohon ampun
kepada-Nya, serta tidak mengulangi perbuatan tersebut serta bergaul
dengan orang-orang yang menjauhinya, Insya Allah Dia akan membukakan
jalan kepada kita.